Adakah orang yang menjengukku ketika aku sakit? Adakah yang merindukanku dan ingin bertemu? Adakah yang mencemaskanku? Adakah yang hadir dihari pemakamanku? Aku sadar, mereka semua manusia.
Kukayuh pedal sepeda tuaku sekuat tenaga, aku menyusuri jalan beraspal yang mulai terkikis dan berlubang penuh dengan genangan air bekas hujan. Sore yang begitu memesona diatas langit sana yang begitu bersih dan biru sehabis hujan. Ditambah kebahagiaan dihati ini yang tak terbendung meluap diseleruh raga dan jiwaku menjadikanya semangat yang tak terkira. Hari ini pengumuman kelulusan untuk kami kelas 3 SMA, tidak terasa sudah tiga tahun yang berlalu aku menghabiskan masa abu-abuku dan juga usiaku bertambah satu tahun lagi menjadi 18 tahun sekarang. Angin yang berhembus pelan terasa begitu dingin ketika menyentuh kulitku. Aku lulus. Senangnya diriku mendapati aku salah satu siswa yang mendapat beasiswa kuliah diluar negeri. Tadi siang sehabis pengumuman, Pak Hendra, guru bahasa inggrisku memanggilku dan membicarakan prestasiku disekolah. Sejak mendengar tentang Jenesys aku jadi gemar belajar dan membaca, padahal dulu waktu SD dan SMP aku tak pernah masuk 20 besar. Aku mendaftarkan diriku waktu naik semester dua kelas satu untuk berpartisipasi ikut Jenesys, dan aku diterima, meskipun bukan aku yang berangkat ke Jepang tahun kemarin. Dan saat ini aku masuk 20 besar nilai tertinggi diseluruh Indonesia, dan itu hal paling bersejarah dalam hidupku. Aku tak pernah merasa aku ternyata sepandai itu.
Kedua pupuku mulai terasa kaku dan tertarik karna mengayuh sepeda terlalu cepat. Aku tidak sabar segera sampai dirumah, memberitahu orang tuaku, betapa mereka akan bangga padaku, itu yang saat ini aku bayangkan.
Melewati dua belokan lagi aku akan sampai dirumah. Rumah kedua orang tuaku yang mana, rumah itu yang menyaksikan diriku tumbuh dewasa. Rumahku terletak disebuah perkampungan dekat jalan raya, jarak rumah dan sekolah kutempuh sejauh 12KM kutempuh dengan sepeda, lebih nyaman dan menghemat uang saku, ditambah lagi jalan pintas menawarkan pemandangan pebukitan dan jembatan cinta dan sungai yang sangat jernih dan penuh ikan benar-benar menggodaku dari pada melewati pinggir kota yang cuma ada pertokoan, asap kendaraan dan polusi. Satu belokan lagi dan aku akan sampai rumah.
Aku berangkat sekolah agak siang, berbeda dengan teman-temanku sekalipun dia badung, aku pernah berangkat sekolah pukul tujuh pagi, dengan ngos-ngosan aku ngebut dan setiba dikelas guru tidak datang 2 jam pelajaran, dan kuputuskan tidur karna kecapaian sehabis membantu ibuku.
Rumah bercat warna abu-abu yang tersusun dari batu bata, dengan atapnya yang sama terbuat dari tanah liat yang orang-orang menyebutnya genteng. Ada sebagian tanah liat yang bisa dimakan, dan rasanya seperti kacang goreng setelah dipanggang.
Rumahku mempunyai halaman yang cukup luas, empat pohon mangga didepan sebagai 'welcome to my home,' dan sebagian tanah diarah barat dijadikan kebun untuk bercocok tanam segala jenis sayuran dan buah-buahan. Dan dijalan menuju pintu halaman yang kosong disulap menjadi lapangan basket, dan satu-satunya diantara 10 kecamatan. Meskipun aku baru bisa memasukan 12 dari 20. Kuanggap itu lumayan.
Memasuki halaman rumahku kutuntun sepedaku, rasanya hati ini begitu bahagia sekali.
"Kamu dipromosikan kuliah di Amerika, meskipun bukan Harvard pun kami sebagai gurumu sangat bangga padamu," begitulah yang diucapkan Pak Hendra kepadaku tadi siang. Meskipun aku selalu terbayang benua biru, Amerika tidak buruk juga.
Aku tersenyum dan kuparkirkan sepedaku di depan teras. Kuketuk pintu rumah tiga kali baru aku ucapkan salam, "Assalamualaikum!"
Begitulah orang tuaku mendidikku, akhlak yang mulia adalah tambang emas orang tua yang selalu diimpi-impikan.
Kubuka pintu dan masuk, mungkin ibu sedang masak di dapur. Aku berlari pelan dan kukeluarkan selembar kertas harapanku. Tiba diruang keluarga aku mendapati kakak-kakakku dan orang tuaku berkumpul. Kulihat ibuku menangis, dengan sinisnya kedua kakakku memandangku. "Ada apa?" tanyaku keheranan. Lalu mereka pergi meninggalkanku, melewatiku, kakakku berbisik "Menjijikan." aku terdiam, dan perlahan mendekati meja itu, seperti rusa yang terkena anak panah, keadaanya meronta kesakitan, mbekiknya yang penuh rasa pilu dan ngilu mentransferkan rasa tersebut pada diriku. Aku memegang buku rahasiaku, tak cuma sekedar rahasia, tapi rahasia yang amat besar. Buku koleksi tubuh pria kekar nan tampan, tak cuma pamer otot mereka, tapi juga alat keperkasaanya. Bagaimana mereka menemukanya? Aku bertanya-tanya, bagaimana? Kupandangi dunia mulai berputar seperti bianglala, aku terhempas diudara dan membentur ditanah ketika aku sudah tidak punya pegangan untuk bertahan pada dunia yang ganjil ini. Aku mengaku, aku 'Gay'. Dan akhirnya mereka tahu.
Entah apa yang barusan terjadi, tiba-tiba aku mendapati diriku sudah ada dikamarku. Entah tadi aku berlari atau menghilang aku bersyukur tidak pingsan. Tapi aku menangis, sesedih nyanyian Marina, sebegitu mengguncang jiwaku seperti aliran listrik.
Kukemasi barang-barangku, benda yang penting-penting dan kutinggalkan semua koleksi wing sowyerku. Setelah para Heina menemukan sebuah bangkai di kolam lumpur, aku yakin burung Nazar tak akan lagi menyimpanya disana. Pasti. Dan untungnya dipunya sayap untuk terbang. Setelah mereka tahu aku tak mengharapkan mereka menerimaku, aku tahu itu. Dan aku tak akan menyalahkan mereka. Aku akan pergi dari sini, pergi, dimana aku tak perlu lagi menjadi orang lain, seperti yang selama ini aku rasakan. Setelah selesai memilah memilih barang yang harus kubawa, aku hanya membawa barang satu tas hitam besar, tidak lupa data-data keluarga yang harus kubawa untuk mengambil beasiswa. Kututup tasku dan aku berajak pergi tepat ketika aku memasuki ruang tamu aku menjumpai ibuku dibelakangku, menangis. Aku yakin beliau tidak akan menghalangiku untuk pergi. Sebelum beliau bertanya pada dunia kenapa? Aku menjawabnya.
"Tidak ada yang salah dalam didikanmu, jangan tanyakan kenapa. Karna aku pun tak tahu jawabanya. Aku tidak salah pergaulan, aku selalu menurutimu untuk bergaul dengan orang-orang baik. Bukan salahmu dan bukan salahku. Aku belajar, aku mengaji, aku turuti semua yang engkau inginkan. Jadi anak baik, anak yang sholeh dan alim, dan selalu membantu orang tua. Tapi, tak tahukah ibu, jika semua ini salah, kenapa para orang tua tak pernah intropeksi diri akan kesalahanya? Semua kedzaliman pasti akan di balas karmanya? Apa ini tetap salah kami? Aku tak pernah bahagia hidup selama ini. Jika aku harus hidup, yang kuinginkan hanya membahagiakan orang tua. Aku menyayangi dengan sisa dendam dan kebencianku pada dunia. Aku hanya ingin melihat orang tuaku bangga dan juga bahagia. Aku tidak jadi anak nakal dan selalu belajar itu semua untuk kalian, bu, tahukah engkau betapa beratnya beban ini, beban yang kupinggul selama ini menjadi seekor bunglon? Pernahkah kau tahu jika anakmu ini sudah kehilangan semangat hidupnya, pernahkah kau tahu betapa kesepian hidup ini, betapa kosongnya kehidupan yang kujalani. Dan itu semua kutahan betapapun beratnya agar bisa membahagiakan orang tuaku, itu satu-satunya hal yang tersisa dihidupku dan sekarang tidak lagi." entah sudah berapa liter air mata yang kukeluarkan untuk menangis.
Kedua pupuku mulai terasa kaku dan tertarik karna mengayuh sepeda terlalu cepat. Aku tidak sabar segera sampai dirumah, memberitahu orang tuaku, betapa mereka akan bangga padaku, itu yang saat ini aku bayangkan.
Melewati dua belokan lagi aku akan sampai dirumah. Rumah kedua orang tuaku yang mana, rumah itu yang menyaksikan diriku tumbuh dewasa. Rumahku terletak disebuah perkampungan dekat jalan raya, jarak rumah dan sekolah kutempuh sejauh 12KM kutempuh dengan sepeda, lebih nyaman dan menghemat uang saku, ditambah lagi jalan pintas menawarkan pemandangan pebukitan dan jembatan cinta dan sungai yang sangat jernih dan penuh ikan benar-benar menggodaku dari pada melewati pinggir kota yang cuma ada pertokoan, asap kendaraan dan polusi. Satu belokan lagi dan aku akan sampai rumah.
Aku berangkat sekolah agak siang, berbeda dengan teman-temanku sekalipun dia badung, aku pernah berangkat sekolah pukul tujuh pagi, dengan ngos-ngosan aku ngebut dan setiba dikelas guru tidak datang 2 jam pelajaran, dan kuputuskan tidur karna kecapaian sehabis membantu ibuku.
Rumah bercat warna abu-abu yang tersusun dari batu bata, dengan atapnya yang sama terbuat dari tanah liat yang orang-orang menyebutnya genteng. Ada sebagian tanah liat yang bisa dimakan, dan rasanya seperti kacang goreng setelah dipanggang.
Rumahku mempunyai halaman yang cukup luas, empat pohon mangga didepan sebagai 'welcome to my home,' dan sebagian tanah diarah barat dijadikan kebun untuk bercocok tanam segala jenis sayuran dan buah-buahan. Dan dijalan menuju pintu halaman yang kosong disulap menjadi lapangan basket, dan satu-satunya diantara 10 kecamatan. Meskipun aku baru bisa memasukan 12 dari 20. Kuanggap itu lumayan.
Memasuki halaman rumahku kutuntun sepedaku, rasanya hati ini begitu bahagia sekali.
"Kamu dipromosikan kuliah di Amerika, meskipun bukan Harvard pun kami sebagai gurumu sangat bangga padamu," begitulah yang diucapkan Pak Hendra kepadaku tadi siang. Meskipun aku selalu terbayang benua biru, Amerika tidak buruk juga.
Aku tersenyum dan kuparkirkan sepedaku di depan teras. Kuketuk pintu rumah tiga kali baru aku ucapkan salam, "Assalamualaikum!"
Begitulah orang tuaku mendidikku, akhlak yang mulia adalah tambang emas orang tua yang selalu diimpi-impikan.
Kubuka pintu dan masuk, mungkin ibu sedang masak di dapur. Aku berlari pelan dan kukeluarkan selembar kertas harapanku. Tiba diruang keluarga aku mendapati kakak-kakakku dan orang tuaku berkumpul. Kulihat ibuku menangis, dengan sinisnya kedua kakakku memandangku. "Ada apa?" tanyaku keheranan. Lalu mereka pergi meninggalkanku, melewatiku, kakakku berbisik "Menjijikan." aku terdiam, dan perlahan mendekati meja itu, seperti rusa yang terkena anak panah, keadaanya meronta kesakitan, mbekiknya yang penuh rasa pilu dan ngilu mentransferkan rasa tersebut pada diriku. Aku memegang buku rahasiaku, tak cuma sekedar rahasia, tapi rahasia yang amat besar. Buku koleksi tubuh pria kekar nan tampan, tak cuma pamer otot mereka, tapi juga alat keperkasaanya. Bagaimana mereka menemukanya? Aku bertanya-tanya, bagaimana? Kupandangi dunia mulai berputar seperti bianglala, aku terhempas diudara dan membentur ditanah ketika aku sudah tidak punya pegangan untuk bertahan pada dunia yang ganjil ini. Aku mengaku, aku 'Gay'. Dan akhirnya mereka tahu.
Entah apa yang barusan terjadi, tiba-tiba aku mendapati diriku sudah ada dikamarku. Entah tadi aku berlari atau menghilang aku bersyukur tidak pingsan. Tapi aku menangis, sesedih nyanyian Marina, sebegitu mengguncang jiwaku seperti aliran listrik.
Kukemasi barang-barangku, benda yang penting-penting dan kutinggalkan semua koleksi wing sowyerku. Setelah para Heina menemukan sebuah bangkai di kolam lumpur, aku yakin burung Nazar tak akan lagi menyimpanya disana. Pasti. Dan untungnya dipunya sayap untuk terbang. Setelah mereka tahu aku tak mengharapkan mereka menerimaku, aku tahu itu. Dan aku tak akan menyalahkan mereka. Aku akan pergi dari sini, pergi, dimana aku tak perlu lagi menjadi orang lain, seperti yang selama ini aku rasakan. Setelah selesai memilah memilih barang yang harus kubawa, aku hanya membawa barang satu tas hitam besar, tidak lupa data-data keluarga yang harus kubawa untuk mengambil beasiswa. Kututup tasku dan aku berajak pergi tepat ketika aku memasuki ruang tamu aku menjumpai ibuku dibelakangku, menangis. Aku yakin beliau tidak akan menghalangiku untuk pergi. Sebelum beliau bertanya pada dunia kenapa? Aku menjawabnya.
"Tidak ada yang salah dalam didikanmu, jangan tanyakan kenapa. Karna aku pun tak tahu jawabanya. Aku tidak salah pergaulan, aku selalu menurutimu untuk bergaul dengan orang-orang baik. Bukan salahmu dan bukan salahku. Aku belajar, aku mengaji, aku turuti semua yang engkau inginkan. Jadi anak baik, anak yang sholeh dan alim, dan selalu membantu orang tua. Tapi, tak tahukah ibu, jika semua ini salah, kenapa para orang tua tak pernah intropeksi diri akan kesalahanya? Semua kedzaliman pasti akan di balas karmanya? Apa ini tetap salah kami? Aku tak pernah bahagia hidup selama ini. Jika aku harus hidup, yang kuinginkan hanya membahagiakan orang tua. Aku menyayangi dengan sisa dendam dan kebencianku pada dunia. Aku hanya ingin melihat orang tuaku bangga dan juga bahagia. Aku tidak jadi anak nakal dan selalu belajar itu semua untuk kalian, bu, tahukah engkau betapa beratnya beban ini, beban yang kupinggul selama ini menjadi seekor bunglon? Pernahkah kau tahu jika anakmu ini sudah kehilangan semangat hidupnya, pernahkah kau tahu betapa kesepian hidup ini, betapa kosongnya kehidupan yang kujalani. Dan itu semua kutahan betapapun beratnya agar bisa membahagiakan orang tuaku, itu satu-satunya hal yang tersisa dihidupku dan sekarang tidak lagi." entah sudah berapa liter air mata yang kukeluarkan untuk menangis.
Dan air mata kepedihan ini adalah hadiah terpedih dalam hidupku. Kukayuh sepedaku sekuat tenaga, semakin cepat aku mengayuh semakin lebar bumi membentangkan dunianya padaku, aku terjerat dalam frustasi dibawah kegelapan malam.
Belum ada tanggapan untuk "Why?"
Posting Komentar